About ‘hipster’ and it’s meaning

Sekarang saya sedang mendengarkan Foster The People yang sedang menjadi primadona dalam scene so-called ‘hipster’.

Hmmm… Actually, I do really hate negative stereotype that stick into term ‘hipster’. Move your brain, then click Google.com, it’s not that shallow. It’s a joke. Unfunny joke.
Anyway, we don’t answer a joke with real answer, joke shouldn’t be answered, moreover, be debated. Let’s move on into something, really something.

Ya di dalam album Torches (2011) ini ada sebuah lagu yang berhasil untuk tidak keluar dari dalam otak saya, lagu ini merasuk bagai perompak samudera luas, menyeruak memaksa masuk dalam kabin kapal, dan anehnya, mereka pun menari kesetanan dengan bahagia bersama kapten dan awak kapalnya.

Foster The People – Waste.

Mengapa saya memilih lagu ini? Lagu ini memiliki emosi. Emosi yang terlampau kuat.
Berikut penggalan lirik yang menjadi pusara emosi.

“…And every day that you want to waste, that you want to waste, you can.
And every day that you want to wake up, that you want to wake, you can.
And every day that you want to change, that you want to change, yeah…”

Secara tekstual, dalam penggalan lirik ini bisa kita kaji secara mudah bahwa lagu ini menceritakan seseorang yang sedang bersenandung lepas kepada angin dan sepi: “…ini hidupmu, bila kau menginginkan untuk menyia-nyiakannya, ini hidupmu, bila kau ingin bangkit, ini hidupmu pula, terlebih, bila kau ingin berubah setelahnya… Yeah!”

Namun secara kontekstual, ada yang bisa digali lebih dalam lagi, yaitu dalam pembagian nadanya, nada yang ada berubah dibagi ke dalam dua penggalan, yaitu: “…And every day that you want to waste, that you want to waste…” dan saat perpindahan ke lirik “…you can…” Mark Foster menyanyikan bagian kedua dengan suara lirih. Ya, suara lirih, yang mana identik dengan emosi depressed, frustrated and so on.

Suara lirih ini, entah kenapa, menyentuh, bagai suara seorang ibu yang telah terlalu letih untuk menyuruh anaknya belajar, sang ibu hanya menginginkan anaknya pintar, masuk sekolah, perguruan tinggi negeri, menjadi PNS, bergaji tetap dan mempunyai pensiun, tidak lebih, ia menginginkan nasib anaknya tidak seperti ibunya, tidak lebih. Namun suara lirih itu tetap terjaga hingga letih.

Segala emosi serta suara lirih itu tertransformasikan pada lagu ini. Penekanan “…you can…” dalam lagu ini membuatnya lebih terkesan depresif, namun lebih menyentuh dan memberi emosi karena komposisi nada yang dibuatnya. Semuanya sesuai pada penyampaian dan Bila lagu ini dipersonifikasi, niscaya ia pun akan menjelma menjadi seorang bijak yang telah dengan sangat gigih memberi tahu seorang manusia untuk berbuat lebih dalam hidupnya, hingga ia pun telah sangat letih, namun dengan tertatih-tatih ia tetap membisikkan suara lirih tersebut.

“…you can…
…you can…”

Yeah you can label this all as semiotics/semantics/whatever thingy, but dude I’m not that advance, and I don’t wanna give a damn about that. This is just simply what I feel when I hear this song.
Because for me, music got something than the ‘music’ itself.
And yeah, I’m really into it, screw the name, for me, the most important is what’s the meaning of it.

Hipster.
Scenester.
Brazzer.
I don’t care.

“If you like the sound, who cares what “genre” it is. Thank you.” – one of a great comment on Youtube.

Yeah, this is me, the guy with Metallica’s full emblem jeans jacket who loves Foster The People. Sell out? Who are you to judge me? God?

#StandUpComedy vs #LiveBand = #GEBEGLIVE

yap, last night I watched a show, namanya: “bukan oz galasin, gebeg live”
kesan pertama yang dibaca dari judul acara? absurd. to the max.

acara ini diselenggarain sama oz radio bandung, acaranya nampilin band-band kaya powerpunk, pure saturday, homogenic, the milo, dll, ah biasa.
then what’s so special?
of course! it’s gebeg!
dalam acara ini dia menjadi drummer bagi semua band penampil, juga menjadi host dan MC acara ini secara penuh,
entahlah manusia macam apa gebeg ini, yang jelas saya tidak mengenalnya,namun saya merasa dekat terhadap dirinya, kenapa? saya hanya mendengar ceritanya, yang spektakuler itu.
bahwa dia dulunya supir angkot cicadas elang. sekarang dia mempunyai 1000 band, juga seorang penyiar radio, mempunyai bisnis konveksi, memegang peranan penting pula di scene bandung, juga satu-satunya orang yang bertanggung jawab karena mempopoulerkan kata “dulur” di seantero jagat raya, ohya, satu lagi, dia jomblo legendaris.
kalau dalam film Crows Zero, dia adalah seorang yang bernama Makise, jagoan namun cemen dalam hal cewe.

yap, dalam pamflet acara dimulai jam2,
namun kenyataannya?
ya ngaret dikit lah mulai jam 5.
ruang ampli theater bernama Dago Tea House tersebut dihajar oleh power punk, Aldi, Kiming, Gebeg dkk langsung berteriak, saling menyahut, berjingkrak, berkeringat, tidak beraturan, namun berirama. definisikan sendiri.
mulai dari lagu apolitik berujudul “nugelo” hingga lagu tipikal berbau politikal yang diberi nama “anarki adalah otoritas”.
mereka berhasil membakar malam,
setlist ditutup, tepuk tangan pun riuh rendah bersahutan.

namun, ada yang aneh dari acara ini, ya, ada sofa di tengah panggung, buat apa? tak ada satu setan pun tahu.
later on, oh ternyata, inilah tempat ritual bagi gebeg dkk melancarkan aksi “ngacapruknya”, inilah salah satu dari banyak talenta gebeg selain bermain drum, mengundang gelak tawa.
setelah power punk selesai bermain, semua personelnya diundang untuk bercengkerama dan ngaler ngidul dulu sembari menunggu band selanjutnya mempersiapkan diri.
ini fresh, basi sudah MC mengisi jeda dengan candaan garing dan jayusnya.
voila! sekarang di saat jeda band ada talkshow, lengkap dengan sofa dan canda hangatnya!

The Milo selanjutnya, ah sudah terbayangkan penonton akan terbawa buaian dan belaian indah dari petikan gitar Ajie Gergaji, di saat lagu dream dimainkan, ia mengundang gebeg untuk mengisi set drum, sang empunya acara. ya, musiknya membuat mengantuk. namun rasa kantuklah yang menurut saya menjadi indikator keberhasilan The Milo dalam meracik musik, saat ia berhasil membuat saya terbuai, membawa saya ke dalam astral projection, atau bahkan lucid dream, inilah peluru tajam yang menyayat daging tiap pendengarnya. keren. lanjut tidur.

Homogenic, dimulai dengan kehadiran sang vokalis perempuan hadir dengan perut besarnya, sang bayi dalam badan masih tetap setia mengikuti lantunan indah dari musik yang dibawakan sang ibunda. gebeg pun masih loyal untuk mengisi fill drumnya, kesan pertama: megah, saat breakdown, lampu memudar, saat beat menanjak, lampu sorot itu berpeutar-putar dengan kecepatan tinggi. diiringi dengan sound yang nyaris sempurna dari band tersebut. semua tertata rapi. musik homogenic adalah perihal heterogen yang terhomogenesisasi dan terharmonisasi dalam indah.

ohya! saat jeda, sofa ritual “ngacapruk” ini pun tak lupa digunakan,
senjata utama:
cerita!
cerita apa?
cerita (maaf) modol dan jeger!
ya inilah cerita modol, diceritakan oleh gebeg dengan fasih bagai pendongeng di era nabi, namun dengan sense of humor 2018274012984 kali lipat.
“syahdan, di sebuah kampung akan ada tahlilan 40 harian seseseorang, ada seorang tua yang pelit dan tak mau rugi menghadiri acara tersebut untuk mencari makanan sebanyak mungkin. lalu hadirlah ke rumah si empunya hajat, ngaji, ngobrol, blablabla, finally diberi makan. fyi, saat itu dia hanya memakai sarung tanpa kancut di dalamnya, biasa setelan ke mesjid, (the rest I’ll tell the story in sundanese, supaya lebih mengena) tah pas si eta dahar, terus si eta teh hayang modol, da kupedah embung rugi tea, jadi si eta modol weh bari sila eta di karpet tahlilan teh, embung ingkah da keur ngeunah dahar, sanggeus beres eta acara daharna, si eta bingung kumaha meresihan eta podolna. nyanggeus si eta api-apai ngadoa weh terus, nepi ka subuhna tah setengah 4, si eta tuluy weh ngadoa terus, nepi ka si nu boga hajat ngomong kieu:
nu boga hajat: “pak atos pak ngadoa na cekap abi tos tunduh ieu,”
si nu modol ngajawab: “nyanggeus kadieu, kadieu, ieu karpet rek dijual moal?”
“naha naon hubunganna pak?”
“eh nggeus tong loba omong erek moal?!”
“moal ah pak!”
“eh ari sia! erek moal!”
“moaaaaal pa aslina”
“ku urang gantian ku motor, daek teu?”
“embung!”
“ku mobil?”
“embung!”
“ku pesawat?”
“embung!”
“yakin embung siah?!” daek dipodolan?”
“daek!”
“tah nggeus!”
*indit weh

setelah mendengar cerita absurd tersebut,
dilanjutkan dengan Pure Saturday, band “dewasa” ini juga memberi warna terhadap kehidupan gebeg, semua anggotanya adalah sahabat karib dan panutan terbaiknya.
semualagu dinyanyikan dengan apik, hingga di tengah lagu gebeg secara tiba2 ingin bernyanyi Zombie dari The Cranberries, memang dipenuhi, namun hasilnya: ricuh.
berikut tweet 8 jam yang lalu dari Pure Saturday saat teringat aksiden semalam gebeg menyanyikan lagu Cranberries - Zombie dengan nada sengau dan pelafalan bahasa inggris yang ultra absurd:
RT @PureSaturdayBdg: ingyohee ingyohee jombiyee jombiyee ehh ehh eehhh..hahaha juara mang @gebegenic :D
sekali lagi, warna, bagai pelangi, selalu indah, selalu menyenangkan.

pada akhirnya acara ini diakhiri oleh band bernama rosemary, band yang sedang naik daun ini semalam sebelumnya baru saja bermain di sebuah penghargaan musik dalam acara tv nasional, sepertinya band ini adalah the next pee wee gaskins, superman is dead, etc. yaitu menjadi band keren yang berhasil menembus tv nasional.
lalu pas sang vokalis sudah menenteng gitar, memakai kacamata hitam, setelan rockstar, siap bernyanyi, maka serentak fans dari band tsb yang rata-rata adalah anak-anak smp berumur 12-14 tahun memakai baju hitam sama yang bertuliskan: W.A.R.S (we are skatepunkers) maju ke depan. berintensi untuk berkeringat dan bersemangat.
kesan pertama: wow, this band is huge, they’ve reached such a big fame.
ya kita ketahui bahwa kalimat provokasi dalam sebuah band punk adalah lumrah adanya, ini bagai tuts keyboard dalam sebuah laptop, keberadaannya saling melengkapi.
berikut adalah kalimat provokasi yang dilancarkan salah satu personil:
“jadi budak skatepunk mah kudu baong!!! yeahh!!!”
translate: “jadi anak skatepunk itu harus nakal!! yeahhh!!
errrrrr. I don’t really respect this, with the age of their fans, I don’t think this is appropriate for them.
illfeel.
diantara keringat dan semangat para pemuda yang berkumpul di depan stage untuk berdansa ria tersebut, i feel the opposite, saya mengernyitkan dahi, apakah sepulang dari stage ini mereka benar-benar akan menjadi nakal, membeli alkohol, membantah orangtua, sesuai dengan pepatah idolanya. errrrr.. sometimes I hate this critical mind and “kepo” thinking. well let’s hope not.

allover it’s a great show,
vive la gebeg.
menyenangkan.
berwarna.
hangat.
namun tanpa klimaks, bagai masturbasi tanpa orgasme.

SKILL IS F'IN DEAD! Q&A: SIR DANDY
Q: soal gitar, sejauh ini ada berapa kunci yang Anda bisa?
A: Sejauh ini ada 7: C, G, Am, A mayor, D mayor, E minor dan F. Kunci yang lain masih belajar, tapi kalau kunci yang bikin sakit jari, gue nggak bisa.
(TraxMagz November 2011 page 53)
baju hitam berduka pelantikan ospek hari ini

hari ini seluruh anggota HI UNPAD 2010 berbaju hitam, entah berawal darimana, hitam selalu diidentikkan dengan berduka cita, terlebih kematian.
ya, sore ini ada yang berduka cita karena adanya kematian.
prolog yang menakutkan.
sebenernya ga seserius itu juga sih, ini semua hanya ngomongin ospek, dan hari ini ada pelantikan, semua yang mau dilantik harus berbaju item, gatau apa korelasinya antara berduka cita sama kematian, tapi secara implisit kayanya ada hubungannya.
obrolan di rumah bordir lah yang membuat saya menulis ini, obrolan antara saya, mufti, apip dan fafa, biasanya kami ngomongin hal ga penting, perempuan berdada besar yang berotak kecil misalnya. namun sekarang berbeda.

"apip tiba2 nyeletuk"
apip: “bow, tau ga? kemaren apip ngobrol sama fafa, obrolannya dalem banget loh, tumben-tumbenan fafa ngobrol dalem”
me: “emang apaan pip?”
apip: “soal divisi medik ospek, kan lagi hening ya di kamar fafa, apip cm berdua lagi ngapain gitu lupa, di kamarnya dia, tau2 dia bilang gini, “pip pikir2 gw ngapain ya latihan fisiknya tiap hari gila latihannya malah lebih berat dari DK (dewan keamanan), tiap hari push up, ngangkang2, bending, emang latian medik cuma buat ngangkat orang yang pingsan pas ospek doang ya? gmn kalo ternyata ntar ada peserta ospek yang jatuh pingsan berdarah idungnya sm telinganya, apa mau langsung kita angkat? langsung kita bawa ke rumah sakit? kalo udah keburu mati di jalan gimana? harusnya kita ngasih ngasih pertolongan pertama dulu kan? ini yang gw bingung, ya gw kan gatau pertolongan pertamanya gmn! kita harusnya belajar skill ngobatin orang kalo dai sakit, gimana pertolongan pertamanya, gw ga diajarin di tiap latihan medik, gw pikir2 aneh deh sm logika pengajaran yang kaya gini, absurd” nah disitu langsung apip sama fafa hening lah lama banget merenungi kalimat ini.
me: iya bener, bener banget, (langsung hening juga, detak jantung juga kedengeran pas tadi lg ngobrol itu”

di lain pojokan masih di rumah yang sama, rumah bordir, rumah bersama orang-orang di International Relations, sekarang giliran mufti yang tau2 bawa semangkok soto, join ngobrol sama saya sama ajeng. ngobrolin ospek lagi.
me: “muf katanya maneh gajadi dilantik ya kemaren malem?”
mufti: “iya bow, gatau tuh, kata social controllernya belum pantes kita jadi DK, masih kurang disiplin blablabla, cape deh gw bow sebenernya”
me: “hmmmmmm..”
*langsung tiba2 apip dgn baju real madrid XXL nya join lagi nimbrung dan ngobrol
apip: “muf cape ga gt2an?”
mufti: “iya cape lah”
apip: “tapi dapet otot kan muf? kan latian push-up terus tiap hari?”
mufti: “apaan masih kecil gini, masih cungkring aja kok”
apip: ” jadi waktunya mening dipake buat baca buku, naikin ipk, atau nonton bokep, ngerileksin diri ya muf?”
mufti: “hmmm.. iya siih”
me: “bayar ga muf jadi DK?”
mufti: “100rb yeeeeaaahhh”
me: “buat apaan tuh muf, bukannya udah cape disuruh kerja ya? tapi masih bayar juga?”
mufti: “buat bikin kaos sekitar 50rb terus makan beberapa kali”
me: “berapa kali muf?”
mufti: “gatau tuh, blm jelas”
me: “oh belum jelas ya, belum jelas, oiya, H minus berapa nih emang? oh sabtu sekarang ya ospeknya”
apip: “muf,”
mufti: “apaan pip?”
apip: “waktu bakalan bisa balik lagi ga muf?”
mufti: “ya ngga lah.”
apip: “oh”
me, apip, mufti: “hening……….”

jam4, akhirnya semua orang mengakhiri pembicaraan absurdnya, mereka semua, (minus me, apip, yoga, rangga) dengan baju hitam-hitamnya, pergi dengan muka tanpa harapan besar, seperti seorang yang sedang akan pergi melayat ke kuburan, yang mana telah mengetahui hanya datang untuk melepas rindu, meskipun telah mengetahui tidak akan menghidupkan kembali orang yang telah mati, ya mereka benar-benar pergi, untuk dilantik, untuk diakui keberadaannya.
aku pun pergi juga, pulang ke rumah. di perjalanan pulang kerumah aku terjebak hujan, sejenak berhenti dan berteduh, wah hujannya besar sekali, aku pun menatap ke langit atas, menengadah ke arah timur, entah jatinangor hujan atau tidak, namun aku berharap besar jatinangor hujan,
supaya bisa melunturkan hitam yang ada disana.

“SCREW EDITING! LET’S START WRITING!”

- anonymous

  archive